Idenya sederhana. Jika ingin duduk di bangku taman ini cukup memasukkan koin 0,50 EUR ke tempat koin yang tersedia, tapi entah itu untuk berapa lama.

Thursday, July 15, 2010
Wednesday, July 14, 2010
Lahan Anda Sempit? Coba Deh Vertikultur
Hobi berkebun, tapi memiliki lahan terbatas. Jangan ilfil akh..yuk coba berkebun dengan cara vertikultur, yaitu menanam pada wadah yang menjulang ke atas atau vertikal. Selain mudah dan murah, wadah vertikal juga menghemat ruang. Bagaimana tekniknya, cara saya seperti ini..nanti inovasi ulang di rumah yah?
Alat & bahan yang dibutuhkan:
- Batang bambu bekas atau pipa PVC
- Pahat atau bor listrik
- semen, pasir, bata/batako secukupnya
- bibit tanaman
- media tanaman.
Cara membuat:
- Potong bambu atau pipa PVC setinggi 120 cm atau 150 cm, sesuai selera
- Siapkan penampang pipa, dibuat dari tumpukan bata/batako ukuran 30 x 30 cm, dengan tinggi sesuai selera
- Cetak lubang penampang seukuran bambu/pipa PVC
- Lubangi bambu dengan alat kikir, sementara pipa PVC menggunakan bor listrik. Buat Lubang berselang-seling dengan jarak antar lubang sekitar 10 - 15 cm
- Jika penampang sudah kering masukkan bambuatau pipa PVC kedalam lubang penampang, jangan dibuat mati agar bambu/pipa bisa diangkat Tujuannya ketika habis panen, untuk mengisi kembali media tanam
- Siapkan media tanam yang terdiri dari tanah, kompos, pupuk kandang (komposisi media tanam tergantung jenis tanaman yang akan di semai di wadah vertikultur ini)
- Jika media telah siap, maka tancapkan benih ke tiap-tiap lubang. Untuk menghindari gagal benih,boleh dimasukkan 2 butir benih ke dalam satu lubang.
- Boleh juga, benih disemai di luar wadah jika sudah keluar tunas dan siap dipindah,maka pindahkan kedalam wadah vertikultur
Penanganan pasca penanaman:
Cukup disiram setiap hari, perlakuannya sama dengan jika menanam di pot atau di atas tanah langsung , berikan pupuk cair atau pupuk granule dengan cara disemprotkan ke tiap-tiap lubang. Penambahan kompos, dilakukan dengan cara dipadatkan disekitar tanaman yang sudah tumbuh.
Vertikultur ini cocok untuk tanaman berakar pendek, seperti selada, kangkung, bayam, pokcoy, caisim, dan bunga-bungaan seperti petunia
Vertikultur, Solusi Bertani di Lahan Sempit
SURABAYA POST - Sempitnya lahan pertanian sering menjadi alasan petani enggan bercocok tanam. Padahal dengan cara bertanam berjenjang (verticulture) seperti yang dilakukan Suhadi, pengusaha agrobinis dan petani di Kota Pasuruan, lahan terbatas bukan halangan bertani.
“Terus terang saya bukan penemu cara bercocok tanam model vertikultur. Saya hanya ingin memperkenalkan vertikultur dan mengajak masyarakat di kota untuk gemar bercocok tanam walaupun di lahan sempit di halaman rumah,” ujar Suhadi ditemui di Tegalbero Camp miliknya di Tegalbero, Kel. Wirogunan, Kota Pasuruan.
“Terus terang saya bukan penemu cara bercocok tanam model vertikultur. Saya hanya ingin memperkenalkan vertikultur dan mengajak masyarakat di kota untuk gemar bercocok tanam walaupun di lahan sempit di halaman rumah,” ujar Suhadi ditemui di Tegalbero Camp miliknya di Tegalbero, Kel. Wirogunan, Kota Pasuruan.
Tegalbero Camp merupakan model pertanian terpadu yang mewadahi perkebunan, pertanian, perikanan, dan peternakan (buntaninak). Melalui Lembaga Pengembangan Kewirausahaan (LPK), Suhadi menggarap lahan Tegalbero Camp seluas sekitar 2,5 hektare, yang terletak sekitar 1 km di pinggiran Kota Pasuruan.
“Saya ingin Tegalbero Camp ini menjadi model pertanian terpadu yang bisa diikuti warga kota termasuk bagaimana cara bertanam di lahan sempit dengan vertikultur,” ujar alumnus jurusan agronomi, Fakultas Pertanian (FP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.
Suhadi mengakui, sejumlah petani bergidik menyaksikan model pertanian vertikultur. “Dikira biayanya mahal, padahal sebenarnya murah karena media tanam bisa dipakai berkali-kali panen,” ujarnya.
Suhadi bersama sejumlah petani mencoba bertanam ala vertikultur di bawah naungan rumah kaca (green house) sederhana. Green house berukuran 10 x 10 meter persegi itu ditutup dengan kelambu plastik warna hitam.
Di dalamnya terdapat 300 tonggak dari batang paralon setinggi masing-masing 2 meter. “Satu lonjor paralon PVC ukuran talang rumah panjangnya 4 meter dipotong jadi dua bagian,” ujar mantan aktivis mahasiswa itu.
Sebatang tonggak (paralon) itu kemudian dilubangi menjadi 120 lubang dengan ukuran diameter 10 cm. Dari sini mulai diketahui biaya awal yakni, sebatan paralon (4 meter) sekitar Rp 35 ribu. “Yang jelas harga satu tonggak plus biaya melubanginya sekitar Rp 20 ribu,” ujarnya.
Setelah itu patok-patok itu diisi dengan media tanam berupa campuran abu batu, arang batok kelapa, dan pupuk kandang. Di bagian tengah tonggak diisi paralon kecil seukuran 0,5 dim yang bersambung ke selang plastik seukuran selang infus.
“Saya ingin Tegalbero Camp ini menjadi model pertanian terpadu yang bisa diikuti warga kota termasuk bagaimana cara bertanam di lahan sempit dengan vertikultur,” ujar alumnus jurusan agronomi, Fakultas Pertanian (FP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.
Suhadi mengakui, sejumlah petani bergidik menyaksikan model pertanian vertikultur. “Dikira biayanya mahal, padahal sebenarnya murah karena media tanam bisa dipakai berkali-kali panen,” ujarnya.
Suhadi bersama sejumlah petani mencoba bertanam ala vertikultur di bawah naungan rumah kaca (green house) sederhana. Green house berukuran 10 x 10 meter persegi itu ditutup dengan kelambu plastik warna hitam.
Di dalamnya terdapat 300 tonggak dari batang paralon setinggi masing-masing 2 meter. “Satu lonjor paralon PVC ukuran talang rumah panjangnya 4 meter dipotong jadi dua bagian,” ujar mantan aktivis mahasiswa itu.
Sebatang tonggak (paralon) itu kemudian dilubangi menjadi 120 lubang dengan ukuran diameter 10 cm. Dari sini mulai diketahui biaya awal yakni, sebatan paralon (4 meter) sekitar Rp 35 ribu. “Yang jelas harga satu tonggak plus biaya melubanginya sekitar Rp 20 ribu,” ujarnya.
Setelah itu patok-patok itu diisi dengan media tanam berupa campuran abu batu, arang batok kelapa, dan pupuk kandang. Di bagian tengah tonggak diisi paralon kecil seukuran 0,5 dim yang bersambung ke selang plastik seukuran selang infus.
“Air bercampur nutrisi atau pupuk kemudian dialirkan dalam tonggak melalui selang plastik yang biasa digunakan untuk akuarium itu,” ujarnya.
Prinsipnya, pengairan harus rutin dan merata menuju pangkal tanaman.
Menurut Suhadi, kondisi tanah harus berporos, tidak boleh padat mengeras.
Prinsipnya, pengairan harus rutin dan merata menuju pangkal tanaman.
Menurut Suhadi, kondisi tanah harus berporos, tidak boleh padat mengeras.
Sejumlah jenis tanaman seperti bawang merah, tomat, lombok, hingga sawi bisa ditanam di lubang-lubang pada tonggak paralon. Sudah beberapa kali ia menanam tomat, lombok, dan bawang merah. “Saya bisa memanen bawang merah seberat 4 kilogram dalam satu tonggak,” ujarnya.
Dengan harga bawang merah sekitar Rp 15 ribu/kg, berarti satu tonggak menghasilkan Rp 60 ribu/tonggak. “Dengan biaya paralon Rp 20 ribu per tonggak ditambah biaya pupuk dan perawatan, pendapatan Rp 60 ribu per tonggak masih untung lumayan. Padahal saya menanam 300 tonggak,” ujarnya.
Suhadi mengakui, umbi bawang merah yang ditanam di paralon tidak sebesar kalau ditanam di tanah. Tetapi umbi bawang merah ala vertikultur itu lebih keras, bahkan saat kering pun tidak susut.
Sejumlah warga mulai tertarik mengikuti jejak Suhadi bertanam ala vertikultur. “ Ada prajurit Yon Zipur yang datang ke sini kemudian mencoba bertanam, demikian juga sejumlah warga,” ujarnya.
Memang ada sebagian warga yang datang langsung bergidik begitu mengetahui peralatan dan media tanam vertikultur. “Pipa paralon kan murah, bisa dipakai menanam berkali-kali. Untuk pengairan bisa menggunakan botol plastik air minum yang diletakkan di ketinggian, tanaman diperlakukan seperti pasien yang diinfus,” ujar Suhadi.
Suhadi pun mengaku banyak mempelajari vertikultur melalui internet, buku, dan majalah. “Di Jepang karena kesulitan lahan, vertikultur di atap gedung. Paralon pun bisa diganti kaleng cat tembok yang disusun ke atas,” ujarnya.
Bahkan ada warga yang nekat mengganti paralon dengan besek (plastik) untuk wadah berkat kenduri. “Ada juga pabrik rokok yang menggantikan paralon dengan plastik tipis, tentu saja gampang robek,” ujarnya.
Bertanam ala vertikultur pun memikat banyak pihak, paling tidak untuk mencoba. “Ada dinas yang meminjam tonggak paralon untuk pameran, ada Pramuka yang pinjam untuk lomba lalu jadi juara di tingkat propinsi,” ujar Suhadi. Anda berminat?
Dengan harga bawang merah sekitar Rp 15 ribu/kg, berarti satu tonggak menghasilkan Rp 60 ribu/tonggak. “Dengan biaya paralon Rp 20 ribu per tonggak ditambah biaya pupuk dan perawatan, pendapatan Rp 60 ribu per tonggak masih untung lumayan. Padahal saya menanam 300 tonggak,” ujarnya.
Suhadi mengakui, umbi bawang merah yang ditanam di paralon tidak sebesar kalau ditanam di tanah. Tetapi umbi bawang merah ala vertikultur itu lebih keras, bahkan saat kering pun tidak susut.
Sejumlah warga mulai tertarik mengikuti jejak Suhadi bertanam ala vertikultur. “ Ada prajurit Yon Zipur yang datang ke sini kemudian mencoba bertanam, demikian juga sejumlah warga,” ujarnya.
Memang ada sebagian warga yang datang langsung bergidik begitu mengetahui peralatan dan media tanam vertikultur. “Pipa paralon kan murah, bisa dipakai menanam berkali-kali. Untuk pengairan bisa menggunakan botol plastik air minum yang diletakkan di ketinggian, tanaman diperlakukan seperti pasien yang diinfus,” ujar Suhadi.
Suhadi pun mengaku banyak mempelajari vertikultur melalui internet, buku, dan majalah. “Di Jepang karena kesulitan lahan, vertikultur di atap gedung. Paralon pun bisa diganti kaleng cat tembok yang disusun ke atas,” ujarnya.
Bahkan ada warga yang nekat mengganti paralon dengan besek (plastik) untuk wadah berkat kenduri. “Ada juga pabrik rokok yang menggantikan paralon dengan plastik tipis, tentu saja gampang robek,” ujarnya.
Bertanam ala vertikultur pun memikat banyak pihak, paling tidak untuk mencoba. “Ada dinas yang meminjam tonggak paralon untuk pameran, ada Pramuka yang pinjam untuk lomba lalu jadi juara di tingkat propinsi,” ujar Suhadi. Anda berminat?
Laporan: Iksan Mahmudi | Surabaya Post
Thursday, July 8, 2010
'Aqua' Palsu
Indonesia menjadi surga bagi pemalsuan. Minimnya pengawasan dan tindakan tegas pemerintah membuat konsumen banyak dirugikan. Salah satunya air mineral palsu atau air mineral isi ulang.
Maraknya peredaran air mineral palsu banyak ditemui saat kita membeli air tersebut di warung kaki lima atau pedagang pinggir jalan. Air mineral isi ulang itu dijual setelah memanfaatkan botol minuman bekas yang telah dibuang.
Maraknya air mineral palsu ini memunculkan gerakan merusak botol air mineral bekas yang beredar melalui BlackBerry Messenger. Isi pesan berantai itu adalah
Terkaitnya banyaknya pemalsuan air mineral dalam kemasan (botol) dimohonkan agar merusak botol minuman mineral bekas dengan menekuk atau memotongnya. Gerakan ini untuk menghindari minuman mineral isi ulang yg saat ini marak beredar. Langkah ini dilakukan sebagai pencegahan maraknya minuman isi ulang, agar botol yg rusak tadi tidak digunakan kembali oleh para PEMALSU. TIDAK ADA SALAHNYA kan berbuat yg terbaik untuk kebaikan semua orang. Salam. STOP FOR PEMALSUAN AIR MINERAL.
Maraknya pemalsuan air mineral ini sebenarnya sudah dicium polisi sejak lama. Polisi pernah menggerebek satu rumah di Perumahan Bukit Nusa Indah, Jl Kenari No 969 RT 004/016, Sirua, Ciputat, Tangerang.
Aparat reserse Polres Metro Jakarta Selatan menangkap dua pelaku karena mengemas air minum merk "aqua" palsu.
Dalam penggerebakan ini, dua tersangka YS (41), warga Ciputat dan NK, warga Ciledug, Tengerang dibekuk.
Artikel ini diAmbil Dari => http://haxims.blogspot.com/2010/07/ayo-rusak-botol-bekas-minuman-mineral.html#ixzz0t3WzDdH3
Maraknya air mineral palsu ini memunculkan gerakan merusak botol air mineral bekas yang beredar melalui BlackBerry Messenger. Isi pesan berantai itu adalah
Maraknya pemalsuan air mineral ini sebenarnya sudah dicium polisi sejak lama. Polisi pernah menggerebek satu rumah di Perumahan Bukit Nusa Indah, Jl Kenari No 969 RT 004/016, Sirua, Ciputat, Tangerang.
Aparat reserse Polres Metro Jakarta Selatan menangkap dua pelaku karena mengemas air minum merk "aqua" palsu.
Dalam penggerebakan ini, dua tersangka YS (41), warga Ciputat dan NK, warga Ciledug, Tengerang dibekuk.
Artikel ini diAmbil Dari => http://haxims.blogspot.com/2010/07/ayo-rusak-botol-bekas-minuman-mineral.html#ixzz0t3WzDdH3
Subscribe to:
Posts (Atom)












